DAYAH GLOBAL News

Memuat...

Rabu, 15 Mei 2013

PANDUAN PENULISAN KARAYA ILMIAH



PANDUAN PENULISAN KARYA ILMIAH
BAGI TEUNGKU DAYAH
Dr. Teugku Saifullah, S.Ag, M.Pd
A.      Latar Belakang
Karya ilmiah adalah berupa paparan tulisan hasil penelitian/penela’ahan yang sistematis, radikal dan menggunakan metodologi ilmiah dan penulisannya sesuai dengan kaidah yang berlaku. Karya ilmiah harus ditulis secara sistematis agar terpelihara konsistensi, koherensi, dan integritas pemikirannya. Pada umumnya susunan suatu karya ilmiah terdiri atas tiga bagian pokok, yaitu, bagian awal (front matter), bagian tubuh laporan/pembahasan (main body/text) dan bagian akhir (reference section).
Pelatihan teknik penulisan karya ilmiah bagi santri dayah ini dilaksanakan dengan tujuan agar: Pertama, Para Santri Dayah mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai dengan bidang ilmu tertentu. Kedua, Para Santri Dayah mampu melakukan penelitian mulai dari merumuskan masalah, mengolah data, mengumpulkan data, menganalisis, menarik suatu kesimpulan. Ketiga, Membantu Para Santri Dayah menyampaikan, menggunakan, mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh melalui Tulisan Ilmiah.
B.  Sistematika Penulisan Karya Ilmiah
Sistematika yang dipakai dari sebuah karya tulis ilmiah minimal meliputi beberapa hal berikut:
1.    Latar Belakang Masalah
Pada bagian ini dicantumkan dasar dan argumentasi serta signifikan penelitian. Masalah penelitian atau keadaan yang akan diteliti dijabarkan dengan jelas, dengan keterangan bahwa masalah tersebut memang belum terjawab dan memerlukan penelusuran mendalam.
Masalah yang dimaksud adalah adanya sesuatu kesenjangan antara satu teori, pemikiran, atau keyakinan umum dengan kenyataan yang sesungguhnya. Masalah dapat juga berupa perbedaan antara dua atau beberapa teori, pikiran, atau keyakinan sehingga memerlukan pemecahan, atau masalah dalam arti empiris, tidak berfungsinya suatu lembaga atau komponen-komponen sistem sebagaimana mestinya. Masalah diangkat dari wacana ilmiah atau dari pengalaman yang sedang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Masalah tersebut dihubungkan dengan pandangan para ahli atau lembaga yang memiliki otoritas. Untuk sebuah Karya ilmiah diupayakan untuk dapat melahirkan suatu ide atau gagasan baru yang bersifat penting.
2. Rumusan Masalah
Di dalam rumusan masalah dirumuskan dengan tegas dan jelas permasalahan yang ingin diteliti sehingga mudah diketahui ruang lingkup masalah dan arah kegiatan yang akan dilakukan. Rumusan masalah dapat diajukan dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan yang menuntut jawaban dalam penelitian yang akan dilakukan.
3. Penjelasan Istilah
Pada bagian ini dimuat penjelasan tentang pengertian istilah-istilah kunci yang terdapat pada judul karya ilmiah agar terjadi konsistensi dalam penggunaan istilah dan terhindar dari pemahaman yang berbeda oleh para pembaca dari apa yang dimaksudkan oleh peneliti dengan penelitiannya.
4.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang terdapat pada rumusan masalah dan sub-sub masalah. Kata kerja yang lazim digunakan antara lain menemukan, mengetahui, menjelaskan, memahami, membanding dan menguraikan.
5.    Landasan Teori
Landasan teori, terutama diperlukan pada penelitian kuantitatif, diambil dari sejumlah literatur utama dan terbaru, kemudian disusun oleh calon peneliti sebagai tuntunan untuk memecahkan masalah penelitian dan untuk merumuskan hipotesis. Landasan teori tersebut dapat berbentuk uraian kualitatif, atau model matematis, atau persamaan-persamaan yang langsung berkaitan dengan bidang ilmu yang diteliti.
Sedangkan pada penelitian kualitatif dan penelitian pustaka landasan teori menguraikan teori-teori yang mendasari pembahasan secara detail, dapat berupa definisi-definisi atau uraian-uraian yang langsung berkaitan dengan ilmu atau masalah yang diteliti.
6.    Kajian Terdahulu
Pada bagian ini dicantumkan hasil-hasil kajian atau penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan, sehingga jelas posisi permasalahan yang akan diteliti.
8. Metodologi Penelitian
Pada bagian ini dijelaskan secara terperinci komponen-komponen yang terkait dengan peleksanaan penelitian sesuai dengan sifat penelitian yang meliputi studi pustaka, penelitian kualitatif, penelitian kuantitatif, studi tokoh maupun studi naskah.
Pada bagian ini setidaknya harus menjelaskan secara rinci antara lain: lokasi penelitian, jenis penelitian, metode penelitian, objek penelitian (kuantitatif: populasi dan sampel), ruang lingkup penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada uraian berikut ini:
a.   Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dimaksudkan di sini adalah tempat penelitian itu dilakukan, dijelaskan sejelas-jelasnya, mulai dari jalan, dusun, gampong, kemukiman, kecamatan, kabupaten, provinsi sampai kepada jarak kilometernya.
b.  Jenis Penelitian
Jenis penelitian dalam penulisan karya ilmiah setidaknya cukup dengan menyebutkan penelitian lapangan (file research) atau penelitian pustaka (library research) saja. Kemudian diuraikan secara ringkas mengenai apa itu penelitian lapangan (file research) dan apa itu penelitian pustaka (library research).
c.   Metode Penelitian
Metode penelitian dalam karya ilmiah dasar setidaknya juga cukup dengan menguraikan apakah penelitian yang dilakukan itu memakai pendekatan kualitatif atau kuantitatif. Sedangkan bagi penelitian pustaka metode penelitiannya disesuaikan. Kemudian dijelaskan secara singkat apa itu metode kualitatif dan apa itu metode kuantitatif.
d.  Objek Penelitian
Bagi penelitian kualitatif, maka diperlukan pembahasan mengenai objek pebelitian. Objek penelitian yang dimaksudkan di sini adalah semacam populasi dalam penelitian kuantitatif, yaitu sasaran atau sumber data penelitian yang harus disebutkan secara menyeluruh (semua), walaupun dalam penelitiannya nanti hanya mengambil beberapa orang saja.
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Sedangkan sampel adalah beberapa orang yang dijadikan sasaran dari penelitian tersebut. Sampel ini dibutuhkan jika objek penelitian melebihi di atas 100 orang, maka diambil minimal 10 % dari total populasi sebagai sampel penelitian. Jika objek penelitian di bawah 100 orang, maka penelitian harus dilakukan kepada semua (total sampling).
e.   Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam suatu penelitian adalah mutlak diperlukan untuk dapat membatasi penelitian, sehingga penelitian akan lebih fokus, terarah dan jelas batasnya. Ruang lingkup penelitian harus disesuaikan dan tidak boleh bertolak belakang dengan rumusan masalah dan tujaun penelitian. Ruang lingkup masalah diupayakan dalam bentuk tabel.
f.    Sumber Data
Sumber data perlu mendapat perhatian serius dari penulis karya ilmiah, karena diterima atau ditolaknya sebuah karya ilmiah sangat tergantung kepada sumber data. Sumber data dalam karya ilmiah meliputi data primer dan data skunder.
Data primer adalah data utama dalam penulisan karya ilmiah. Sedangkan data skunder adalah data pendukung. Dalam menguraikan sumber data ini, penulis harus mengetengahkan apa saja data-data tersebut, kalau data itu berbentuk buku harus ditulis pengarang, judul, cetakan keberapa, lokasi cetak, pencetaknya siapa, tahun cetak, serta jilid berapa. Jika sumber data itu orang, maka perlu diberikan identitasnya yang lengkap. Demikian juga dengan sumber-sumber data yang lainnya.
g.  Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian pustaka cukup satu saja yaitu survei literature (penelurusuran referensi), bagi penelitian kualitatif teknik pengumpulan data berupa 1) wawancara (interview); 2) studi dokumentasi dan; 3) observasi. Sedangkan penelitian kuantitaif harus menambah satu lagi yaitu kuesioner (angket).
h.  Teknik Analisa Data
Dalam penelitian pusata dan penelitian kualitatif teknik analisa data cukup dengan analisis nonstatistik berupa reduksi, display dan verifikasi. Sedangkan dalam penelitian kuantitatif, teknik analisa data adalah analisis statistik berupa editing (penyuntingan), coding (pengkodean) dan tabulating (tabulasi).
9.  Pembahasan
Pembahasan sebuah karya ilmiah harus disesuaikan dengan Rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas.
10.    Penutup
Pada bab ini dimuat kesimpulan dan saran-saran. Kesimpulan adalah jawaban terhadap masalah penelitian yang dikemukakan pada pendahuluan skripsi. Atas dasar itu, maka kesimpulan harus sama jumlahnya dengan jumlah rumusan masalah. Perlu ditegaskan bahwa kesimpulan bukan ringkasan  dari bab-bab skripsi. Kesimpulan adalah natijah atau hasil/jawaban dari rangkaian argumentasi yang dituangkan dalam menjawab permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Pada bagian saran dimuat hal-hal yang perlu ditindaklanjuti dari hasil penelitian, baik berupa penelitian lanjutan atau implikasi praktis dari hasil penelitian tersebut.
11. Daftar Pustaka
Pada bagian ini, perlu diinformasikan seluruh bahan bacaan, termasuk dokumen-dokumen yang belum dipublikasikan. Daftar pustaka tersebut diurutkan berdasarkan huruf abjad yang dimulai dari huruf “A” dan diakhiri dengan huruf “Z”. Setiap sumber yang dicantumkan dalam daftar pustaka harus mengandung unsur-unsur yang memungkinkan penelusuran sumber, seperti unsur pengarang, judul karya, cetakan keberapa, tempat terbit, penerbit, tahun terbit, jilid, dan halaman.
Daftar pustaka berisi keterangan tentang semua sumber informasi yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Meskipun sumber-sumber informasi sudah dicantumkan pada catatan kaki tetapi daftar pustaka sangat penting untuk memudahkan pembaca melihat kelengkapan sumber yang digunakan. Sumber-sumber disusun dalam sebuah daftar alpabetik untuk memudahkan penggunaanya.
Penyebutan daftar pustaka yang dipergunakan dalam penulisan karya ilmiah merupakan suatu keharusan. Daftar pustaka diletakkan setelah bab terakhir. Pengetikan daftar pustaka mengikuti format sebagai berikut:
1.        Setiap sumber yang dicantumkan dalam daftar pustaka harus mengandung unsur-unsur yang memungkinkan penelusuran sumber, seperti unsur pengarang, judul karya, cetakan keberapa, tempat terbit, penerbit, tahun terbit, jilid, dan halaman.
2.        Penulisan nama pengarang sebagaimana biasa (bukan dimulai dengan nama akhir) dan di dalam daftar pustaka diurutkan mengikuti abjad.
3.        Jika ada dua karangan atau lebih yang berasal dari seorang penulis, maka nama pengarang cukup dicantumkan sekali saja. Penulisan berikunya diganti dengan garis sepanjang 2,5 cm dari garis margin.
4.        Gelar akademik dan lainnya tidak dicantumkan pada daftar pustaka.
5.        Daftar pustaka ditulis dengan spasi tunggal. Jarak antara dua sumber pustaka adalah 1,5 spasi.
6.        Daftar pustaka tidak menggunakan nomor urut. Penulisan daftar pustaka dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya (jika ada) dimasukkan kedalam tujuh ketukan dari margin kiri.
Contoh Daftar Pustaka
Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsi-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung: Diponorogo, 1992.
Djumransyah, Dimensi-Dimensi Filsafat Pendidikan Islam cet. 1, Malang: Kutub Minar, 2005.
Hasan Asari, Modernisasi Islam: Tokoh, Gagasan dan Gerakan cet. 2, Bandung:  Citapustaka Media, 2007.
Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam cet. 2, Bandung: Al-Ma’arif, 1980.
Ibn ‘Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Kairo: Dar al-Sya’bi, tt.
Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam; Telaah Sejarah dan Pemikirannya cet. 1, Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Kartini  Kartono, Pengantar Ilmu Pendidikan Toeritis, Bandung: Mandar Maju, 1992.
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasar­kan Pendekatan Interdisipliner cet. 5,  Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Omar Mohamad al-Taomy al-Syaibani, Falsafat al-Tarbiyah al-Islamiyah, terj. Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Paul Edwars (e.d.), The Encyclopedia of Philosophy, New York: Macmillan Co. Inc & The Free Prees, 1972.
Rosnani Hashim, Gagasan Islamisasi Kontemporer: Sejarah Perkembangan dan Arah Tujuan, dalam Islamia, Volume 2, Nomor 6, Juli-September 2005.
Taufiq Abdullah. “Kata Pengantar” dalam Taufiq Abdullah dan M. Rusli Karim, (ed.), Metodelogi penelitian Agama Sebuah Pengantar, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1989.
Zainuddin Sardar, Jihad Intelektual Merumuskan Parameter-Parameter Sains Islam, (ed). Dan terj. AE. Priono, Surabaya: Risalah Gusti, 1998.
C. Ketentuan Umum Dalam Penulisan Karya Ilmiah
Dalam penulisan karya ilmiah ada beberapa aturan umum yang harus mendapat perhatian serius bagi penulis/peneliti, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Jenis dan Ukuran Kertas
Untuk pengetikan suatu karya ilmiah biasanya dipergunakan kertas jenis HVS 70 gram dengan ukuran A4 (21 cm x 29,7 cm) dan hanya diketik pada sebelah muka halaman saja.
2.  Jenis Huruf
Huruf yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah adalah font Times New Roman dengan font size 12 bagi karya ilmiah yang ditulis dengan huruf Latin. Sedangkan untuk penulisan huruf Arabnya dipergunakan font Tradisional Arabic dengan font size 18. Tinta yang digunakan berwarna hitam.
3. Sepasi
Secara umum, dalam pengetikan karya ilmiah dipergunakan spasi 1,5 cm (satu koma lima centi meter).
4. Pengetikan dan Margin
Pengetikan karya ilmiah dilakukan pada satu lembar muka kertas saja. Dengan ukuran, margin atas (top margin) dan margin kiri (left margin) 4 (empat) cm, margin bawah (bottom margin) dan margin kanan (right margin) 3 (tiga) cm.
5. Transliterasi Arab-Latin
Yang dimaksud dengan transliterasi di sini ialah penulisan huruf Arab menjadi huruf Latin dalam kata atau kalimat. Transliterasi diperlukan terutama bagi karya ilmiah yang di dalamnya terdapat istilah-istilah Arab seperti: birr al-wâlidain, mu’âmalah, dan lainnya.
Pedoman Transliterasi Arab Latin dalam menulis karya ilmiah harus berpedoman kepada Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Prendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 158 Tahun 1987 dan Nomor 0543 b/u/1987, tentang pembakuan pedoman transliterasi Arab-Latin, sebagai berikut:
Huruf Arab
Nama
Huruf Latin
Nama
ا
alif
Tidak dilambangkan
Tidak dilambangkan
ب
ba
b
be
ت
ta
t
te
ث
sa
ś
eś (dengan titik di atas)
ج
jim
j
je
ح
ha
ha (dengan titik di bawah)
خ
kha
kh
ka dan ha
د
dal
d
de
ذ
zal
ź
źet (dengan titik di atas)
ر
ra
r
er
ز
zai
z
zet
س
sin
s
es
ش
syim
sy
es dan ye
ص
sad
es (dengan titik di bawah)
ض
dad
de (dengan titik di bawah)
ط
ta
te (dengan titik di bawah
ظ
za
zet (dengan titik di bawah
ع
‘ain
koma terbalik di atas
غ
gain
g
ge
ف
fa
f
ef
ق
qaf
q
qi
ك
kaf
k
ka
ل
lam
l
el
م
mim
m
em
nun
n
en
wau
w
we
ha
h
ha
hamzah
'..
apostrof
ya
y
ye

6.  Penggunaan Bahasa
Karya ilmiah  ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar mengacu kepada bahasa Indonesia yang baku dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Karya ilmiah juga harus mentaati segenap kaedah tata bahasa dan ketentuan penulisan ilmiah. Karya ilmiah seharusnya ditulis dengan menggunakan bahasa yang lugas, singkat dan padat. Apabila pembahasan Karya ilmiah menghendaki penggunaan ringkasan-ringkasan atau simbol-simbol yang tidak lazim, harus dijelaskan pada bagian awal. Setiap kedapatan bahasa asing (selain bahasa Indonesia), teknik pengetikannya harus dimiringkan. Contoh: rangkang, book, one dan sebagainya.
7. Kutipan-Kutipan
Penulis Karya ilmiah perlu mengutip karya-karya terdahulu dan teori-teori terkait yang sudah dipublikasikan pada bidang tertentu untuk mendukung argumentasinya dan menghindari plagiat. Seorang penulis dapat mengutip karya tertentu secara langsung atau tidak langsung. Tujuan suatu kutipan adalah untuk melengkapi karya yang sedang digarap oleh seorang penulis, pada dasarya kutipan harus sama dengan sumbernya, baik susunan kata, ejaan, maupun tanda baca. Sebagai tuntutan etik keilmiahan, maka suatu kutipan harus disebut sumbernya dengan penuh rasa kejujuran. Kutipan tidak dapat dijadikan sebagai bagian utama dari suatu karya tulis. akan tetapi penggunaan kutipan diperlukan pada segi-segi tertentu saja, misalnya, kutipan itu menopang pendirian atau pendapat penulis. Karya ilmiah yang terlalu banyak menggunakan kutipan seakan-akan merupakan suatu kumpulan kutipan belaka. Hanya pada karya tulis tertentu, resensi sebuah buku umpamanya, maka penggunaan kutipan dapat dilakukan relatif lebih banyak. Secara umum, kutipan dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu: kutipan langsung (kwotasi) dan kutipan tidak langsung (paraphrase).
1)   Kutipan Langsung
Kutipan langsung adalah kutipan yang masih utuh, tanpa perubahan sedikitpun dari bentuk aslinya. Kutipan langsung juga dapat diartikan adalah peminjaman ide dari karya tertentu tanpa perubahan redaksi. Kutipan langsung harus dituliskan secara khusus agar ungkapan yang ditulis dapat diidentifikasi secara jelas, namun tanpa mengganggu kewajaran teks Karya ilmiah.
Dilihat dari segi teknis pengetikan, maka kutipan langsung yang panjangnya lima baris atau lebih, diketik dengan jarak satu spasi dengan mengosongkan empat pukulan tik dari margin kiri dengan tidak diberi tanda kutip. Sebagai contoh :
Perasaan aman merupakan salah satu harga diri yang tidak terbilang nilainya, yang bisa anda miliki. Dengan memilikinya anda bisa penuh gairah dan merasa puas. Tanpa memiliki rasa aman anda akan sulit melakukan sesuatu tugas dengan baik. Karena itu pupuklah rasa aman itu pada diri anda dan anak-anak anda.
Kutipan langsung yang panjangnya kurang dari lima baris diketik dengan jarak dua spasi dan dimasukkan ke dalam teks. Pada awal dan akhir kutipan harus dibubuhi tanda kutip, contoh:
Di dalam buku "Aqidah Akhlaq" disebutkan bahwa "suri teladan yang baik merupakan salah satu kunci kehormatan, lima belas abad yang lampau Nabi Muhammad telah menyebarluaskan ajaran ini."
2) Kutipan berbentuk Ayat Alquran dan Hadis
Kutipan dalam bentuk ayat dan hadis harus dilakukan dengan sangat hati-hati, mengingat kesalahan dalam pengutipan ayat dan hadits menimbulkan efek yang sangat fatal, lebih-lebih lagi akan menyesatkan pembaca yang membawa dosa bagi penulis. Atas dasar itu kutipan ayat dan hadis harus dikutip langsung dari sumbernya, yaitu Alquran dan kitab-kitab hadis yang makruf. Dilarang keras mengutif ayat dan hadis bukan pada sumbernya seperti melalui buku khutbah jum’at dan  buku-buku lain.
Kutipan yang bersumber dari Alquran harus dicantumkan surat dan nomor pada akhir ayat dan pada akhir terjemahannya. Contoh:
tûïÏ%©!$# tbqãZÏB÷sムÍ=øtóø9$$Î/ tbqãKÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# $®ÿÊEur öNßg»uZø%yu tbqà)ÏÿZムtûïÏ%©!$#ur tbqãZÏB÷sム!$oÿÏ3 tAÌRé& y7øs9Î) !$tBur tAÌRé& `ÏB y7Î=ö7s% ÍotÅzFy$$Î/ur ö/ãf tbqãZÏ%qム) ﺍﻠﺒﻗﺭﺓ: ٣-٤)
Artinya:      Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat. (Q.S. Al-Bakarah: 3-4).

Kutipan hadis harus dicantumkan sanad dan perawinya, secara lengkap dan jelas. Nama perawi ditempatkan di akhir hadis dan diberi tanda kurung pembuka dan penutup. Contoh:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُفْيَان حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ "أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ, "كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى "قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَى, قَالَ, "مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى."(رواه البخارى)
Artinya:      Menceritakan kepada kami Muhammad ibn Sufyan, menceritakan kepada kami Fulaih, menceritakan kepada kami Hilal ibn ‘Ali, dari 'Atha ibn Yasar, dari Abu Hurairat RA, Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah!, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: Barangsiapa menaatiku maka dia masuk surga, dan siapa yang durhaka terhadapku maka dia yang enggan. (H.R. Bukhari).²
3) Kutipan Dalam Bentuk Puisi
Kutipan langsung dalam bentuk puisi yang tidak lebih dari satu baris dimasukkan ke dalam paragraf teks karya ilmiah, seperti halnya kutipan lainnya yang kurang dari lima baris. Kutipan langsung dalam bentuk puisi yang terdiri dari atas dua baris atau lebih ditulis terpisah dengan spasi tunggal dengan dimasukkan ke dalam teks sebanyak empat ketukan dari margin kiri.
Contoh:
Untuk mengilustrasikan hal tersebut, berikut dikutipkan sebuah puisi dari kitab Syair Burung Pingai, karya Hamzah Pansuri:
Sayapnya bernama Furqan,
Tubuhnya bersurat Qur’an,
Kakinya Hannan dan Mannan,
Daim bertengger di tangan Rahman,
4) Kutipan dan Terjemahan dari Bahasa Asing
Kutipan dan terjemahan dari bahasa asing dihitung sebagai satu kesatuan. Ketipan dan terjemahan yang kurang dari lima baris dimasukkan ke dalam paragraf teks karya ilmiah. Teks asli (bahasa asing) ditulis di antara dua tanda petik tangkap dan terjemahannya ditulis di antara dua tanda kurung siku ([  ]). Kutipan dan terjemahan yang mencapai lima baris atau lebih ditulis terpisah dari paragraf teks dengan spasi tunggal dengan mengkosongkan empat ketukan dari margin kiri, tanpa dibumbuhi tanda petik.
Contoh:
In fact, the saying that “man connot live without hope” has been proved to be all too true. It was only after a large part of humanity has ceased to believe in the possibility of a “vertical” progrees, the individual towards the Eternal and Infinite, that men began to fix their hopes on a vague horizontal “progress”... [Sebenarnya ungkapan bahwa “manusia tidak dapat hidup tanpa harapan” terbukti seluruhnya sangat sangat benar. Hanya setelah sebagian besar manusia tidak lagi percaya pada kemungkinan suatu kemajuan “vertika”, yaitu kemajuan pribadi menuju Yang Abadidan Mutlak, maka manusia mulai mengarahkan harapannya kepada kemajuan horizontal yang samar-samar...].

5) Pemotongan kalimat dalam kutipan
Dalam pengutipan, terkadang bagian-bagian tertentu dari teks kutipan perlu dipotong dan dibuang sehingga tidak tercantum dalam kutipan. Pemotongan ini biasanya ditujukan untuk menghindari teks kutipan yang terlalu panjang dan bisa terjadi di awal , di tengah dan di akhir kutipan. Pemotongan mesti dilakukan secara hati-hati, sehingga tidak merubah gagasan, sebab ide dasar dari pengutipan secara langsung adalah mempresentasikan sebuah gagasan sepersis mungkin. Dalam kutipan, bagian yang dibuang diwakili atau ditandai oleh tiga titik (...).
contoh:
Imamah bukan sekedar jabatan politik, melainkan sekaligus sebagai jabatan spiritual yang sangat tinggi. Maka tugas dan wewenangnya dalam menjalankan roda pemerintahan..., Imam bertanggung jawab untuk membimbing umat.

6) Anotasi dan Interpolasi dalam kutipan
Jika dalam kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung terdapat kata atau ide yang membutuhkan penjelasan, maka dapat dilakukan anotasi. Anotasi adalah penambahan penjelasan sesudah kata yang  membutuhkan keterangan dalam kutipan.
Anotasi ditulis di antara dua tanda kurung besar/siku ([ ]). Untuk membedakannya dari teks asli kutipan langsung. Anotasi yang terlalu panjang, sehingga mengganggu keutuhan teks kutipan, sebaiknya dibuat dalam catatan kaki.
Contoh:
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Almuslim merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Kerena itu, STAI secara keseluruhan tidak bisa mengisolasikan dirinya dari perubahan-perubahan paradigma, konsep, visi, misi dan orientasi baru dalam pengembangan pendidikan tinggi nasional dan bahkan internasional, seperti dirumuskan dalam deklarasi UNISCO [United National Education, Scientific, and Cultural Organization, organisasi PBB untuk pendidikan, sain, dan kebudayaan] tentang perguruan tinggi pada tahun 1998.
Apabila dalam kutipan langsung terdapat sutau kesalahan (logika, fakta, pengetikan, ejaan, dan sebagainya), kesalahan tersebut harus diindikasikan dengan interpolasi, yaitu menulis (sic), miring dalam kurung, sesudah kesalahan. Dengan demikian maka pembaca akan mengetahui bahwa kesalahan tersebut merupakan bawaan asli kutipan. SIC artinya “demikian adanya.
Contoh:
Bapak Susilo Bambang Yudoyono selaku Presiden Rebublik Indonesia dalam kenjungan kerjanya pada tahun 2010, menempatkan diri untuk singgah ke Dayah Darul Istiqomah Kabupaten Bireuen Provinsi Sumatera Barat (Sic), sebelum melanjutkan perjalanan menuju Banda Aceh sebagai Ibu Kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.10
7) Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang dikutip dari karya orang lain dan telah mengalami perubahan dari aslinya. Kutipan tidak langsung juga dapat diartikan sebagai peminjaman ide dari sebuah karya lain tanpa mengambil redaksinya. Kutipan tidak langsung diketik di dalam dua tanda petik.
Contoh:
“Dengan berpangkal tolak pada pandangan Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, baik yang tertulis, maupun yang tidak tertulis, dapat disimpulkan bahwa anak didik marupakan faktor yang paling penting".11 Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan anak didik harus mendapat tempat khusus dalam sistem pendidikan nasiaonal.
8. Catatan Kaki
Catatan kaki adalah catatan yang ditempatkan di kaki halaman untuk menyatakan sumber kutipan, pendapat, fakta, ikhtisar, penjelasan dan atau komentar mengenai sesuatu yang dikemukakan di dalam teks.
Setiap kutipan, baik yang langsung maupun yang tidak langsung, harus diberi catatan kaki yang berisi informasi lengkap tentang sumber kutipan. Fungsi paling fundamental dari catatan kaki adalah menjaga kejujuran intelektual penulis karya ilmiah serta untuk memungkinkan dilakukannya pemeriksaan ulang tentang akurasi pengutipan. Informasi yang harus diketengahkan dalam catatan kaki setidaknya adalah nama pengarang, judul karya, nama penerjemah, nama editor, keterangan edisi/cetakan, tempat penerbitan, nama penerbit, tahun terbit, nomor jilid, dan nomor halaman yang dikutip. Tentu saja tidak semua catatan kaki mengandung informasi yang sama. Sesuai dengan jenis dan sifat dari sumber kutipan, terdapat perbedaan-perbedaan kecil dalam teknis penulisan catatan kaki.
1) Beberapa Ketentuan Tentang Catatan Kaki
Pengetikan catatan kaki dalam sebuah karya ilmiah harus berpedoman pada kaidah-kaidah yang lazim digunakan dalam penelitian ilmiah pada umumnya, yaitu:
1)             Catatan kaki ditulis di bagian bawah halaman karya ilmiah dan diselingi oleh sebuah garis solid sepanjang lima cm., sebagaimana umumnya diatur secara otomatis dalam program-program komputer pengolah kata.
2)             Catatan kaki ditulis dengan spasi tunggal. Baris pertama ditulis menjorok ke kanan sebanyak tujuh ketukan, sedangkan baris selanjutnya mengikuti margin dasar.
3)             Nomor catatan kaki sama dengan nomor rujukannya pada kutipan dan berada pada halaman yang sama.
4)             Nama pengarang dicantumkan tanpa gelar akademis atau gelar-gelar lainnya.
5)             Jika pengarang/editor terdiri atas satu atau dua orang, nama pengarang/editor dicantumkan secara lengkap. Jika pengarang /editor lebih dari dua orang, maka dalam catatan kaki hanya dicantumkan nama seorang pengarang pertama, diikuti dengan dkk.
6)             Jika sebuah karya mempunyai judul dan anak judul, keduanya ditulis dengan diselingi dengan titik dua(:).
7)             Pengutipan kedua dan seterusnya terhadap sebuah karya yang sama dilakukan dengan : jika berurutan dan merujuk pada halaman yang sama, cukup dengan kata Ibid (miring); jika merujuk pada halaman yang berbeda, maka Ibid diikuti dengan nomor halaman; apabila sudah diselingi oleh catatan kaki lain, maka dicantumkan nama akhir pengarang dan penggalan awal judul karangan, diikuti dengan nomor halaman yang dikutip.
8)             Nama penerjemah dicantumkan setelah judul.
9)             Keterangan cetakan dicantumkan setelah judul karya, dengan angka Arab (Contoh: cet. 6).
10)         Nomor jilid ditulis setelah tahun penerbitan dengan angka Rumawi capital (Jilid VII).
11)         Identitas yang ada pada manuskrip atau teks wawancara seringkali sangat bervariasi. Dalam hal ini, catatan kaki harus mengandung informasi yang dapat menunjukkan sejelas mungkin identitas tersebut.
12)         Jika identitas tertentu dalam catatan kaki seperti kota tempat terbit, penerbit atau tahun terbit tidak dijelaskan dalam karya yang dikutip, hal tersebut dinyatakan dalam catatan kaki dengan menggunakan singkatan:
t.t.p.       = tanpa keterangan kota tempat terbit
t.p.         = tanpa keterangan nama penerbit
t.t.          = tanpa keterangan tahun terbit
13.     Beberapa singkatan lain yang lazim dipergunakan dalam catatan kaki karya ilmiah adalah:
hal.         = halaman
vol          = volume
ed.          = editor, edisi
cet.         = cetakan
no.          = nomor
terj.        = terjemahan
~ Contoh-Conto Catatan Kaki
Berikut adalah contoh-contoh penulisan catatan kaki yang merujuk kepada beberapa sumber:
1.        Kitab suci
Jika kutipan bersumber dari sebuah Kitab Suci, catatan kaki mencantumkan nama surat, nomor surat, dan nomor ayat, Untuk al-Qur,an disingkat dengan Q.S.:
²Q.S. Al-Bakarah/2: 10.
Jika yang dikutip adalah tafsiran atau terjemahan kitab suci, nama dan nomor ayat dicantumkan dalam teks karya ilmiah, sedangkan catatan kaki sama dengan yang bersumber dari buku:
³Abdullah Yusuf Ali, The Hily Qur’an: Translation and Commentary cet. 1 (Lahore: Islamic Propagation Centre, 1946), hal. 442.

2.        Buku
Buku dengan satu orang pengarang:
4Saifullah, Nalar Pendidikan Islam: Ikhtiar Memahami Pendidikan dari Berbagai Perspektif, cet. 1 (Bandung: Citapustaka, 2010),  hal. 47.

Buku dengan dua orang pengarang (kedua nama dicantumkan):
5Saifullah dan Muhammad Nasir, Panorama Pendidikan Islam: Ikhtiar Memahami, cet. 1 (Bandung: Citapustaka, 2010),  hal. 73.
Buku dengan tiga atau lebih pengarang:
Buku dengan tiga atau lebih pengarang yang dicantumkan hanya nama pengarang yang pertama saja, ditambah dengan “dkk”:
6Slamet Effendi Yusuf, dkk., Dinamika Kaum Santri: Menelusuri Jejak dan Pergolokan Internal NU, cet. 1 (Jakarta: Rajawali, 1983), hal. 23.
Buku Terjemahan:
7Annemarie Schimmi, Jiwaku Adalah Wanita: Aspek Feminin dalam Spritualitas Islam, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 1998), hal. 17.

Buku (kitab) yang dijilid bersama dengan buku lain oleh dua orang pengarang:
8Jalâl al-Dîn al-Suyûṭî, Kitâb al-Nuqâyah, pada margin Abû Ya’qûb al-Sakâkî, Miftâḥ al-‘Ulûm (Mesir: Al-Maktaba’ah al-Adabîyah, t.t.), hal. 261.

Buku tanpa pengarang:
9Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Profil Organisasi dan Tahunan 2002 (Jakarta: ICMI, 2003), hal. 16.

3.        Artikel
Artikel dalam buku:
10Khurshid Ahmad, ”The Nature of the Islamic Resurgence” Dalam John L. Esposito, dkk., (ed.) Voices of Resurgent Islam. (New York: Oxford University Press, 1993), hal. 51.
Artikel pengantar dengan judul khusu:
11Azyumardi Azra, “Pendidikan Tinggi slam dan Kemajuan Sains (Sebuah Pengantar)” dalam Charles Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam: Sejarah dan Peranannya dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan, terj. Affandi dan Hasan Asari (Logos Publishing House, 1994), hal. Vi.

Artikel pengantar tanpa judul khusus:
12 Taufik Abdullah, “Pengantar”, dalam Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana dan Kekuasaan (Bandung: Remaja Rosadakarya, 1999), hal. Iv.

Artikel dalam jurnal ilmiah:
13Saifullah, “Analisis Kritis Seputar Islamisasi Ilmu Pengetahuan” dalam Pena Almuslim, volume 1, nomor 1, hal. 14.

Arikel dalam majalah:
14Miranda Ulfa, “Kearifan Lokal yang Terganjal” dalam Santunan (23 Oktober 2011), hal. 17.

Artikel dalam surat kabar:
15Anas Arrazi, “Demokratisasi dalam Pendidikan Islam” dalam Harian Serambi Indonesia (23 Maret 2011), hal. 71.

4.        Karya yang tidak diterbitkan
12Saifullah, Pembaharuan Pendidikan Islam: Melacak Akar Tradisional Pendidikan Islam Kontemporer (buku, tidak diterbitkan), hal. 73.
13Saifullah, Kontribusi Kesultanan Islam Pasai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam di Nusantara (makalah, tidak diterbitkan), hal. 70.

5.        Internet
14Tina Levia, Berguru Kepada Tuhan, Artikel diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 dari www.ummulqura.web.id.

6.        Wawancara
14Saifullah, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Almuslim Bireuen Provinsi Aceh, wawancara di Matangglumpangdua, 17 September 2011.
15Teungku H. M. Yusuf A. Wahab, Pimpinan Dayah Babussalam Putra Jeuneib Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh, wawancara di Bireuen, 10 September 2011.
~  Penulisan catatan kaki kutipan kedua dan seterusnya terhadap sebuah karya

Apabila sebuah sumber dikutip lebih dari satu kali, catatan kaki kedua dan seterusnya dituliskan dengan cara khusus. Catatan kaki kedua dan seterusnya yang  tidak diselingi oleh catatan kaki lain dengan nomor yang sama mengunakan kata Ibid. saja. Jika nomornya berbeda dengan catatan kaki sebelumnya menggunakan kata Ibid., diikuti oleh nomor halaman. Catatan kaki kedua dan seterusnya yang telah diselangi sumber yang lain ditulis dengan mencantumkan nama akhir penulis, penggalan awal judul karya, dan nomor halaman.



Contoh:
Karya Hasan Asari dikutip pada catatan kaki nomor satu, dua, tiga dan enam, maka catatatn kaki tersebut akan terlihat sebagai berikut:
1Hasan Asari, Studi Islam dari Pemikiran Yunani ke Pengalaman Indonesia Kontemporer, cet. 1 (Bandung: Citapustaka Media), 2006.

Catatan kaki nomor 2 dan 3:
2Ibid.
(artinya yang dikutip adalah buku dan halaman yang sama, 73)
3Ibid., hal. 78.
(artinya yang dikutip adalah buku yang sama dengan halaman berbeda, 78)
Catatan kaki nomor 6:
6Asari, Studi Islam, hal. 79.
D.      Penutup
Demikian Makalah Ringkas ini disampaikan pada acara Pelatihan Bakat dan Minat Jurnalistik dan IT bagi santri Dayah Se-Kabupaten Bireuen Anggkatan I, II, III dan IV ini medah-mudahan bisa member manfaat tersendiri bagi kita semua.

Wallahu a’lam bissawab. Wassalamu’alaikum Wr-Wb
www.abiyadoktor@yahoo.com
www.ummulqura.web .id





[1] Dr. Tengku Saifullah, S.Ag, M.Pd, Lahir pada Tanggal 07 Oktober 1973 dari orang tuanya yang bernama Teungku Matsyah Cutben (Mc) dan Hj. Saudah Ali. Pendidikannya di mulai di Pesantren Darul Istiqomah Bireuen (Dayah Pimpinan Tgk. Teunom dan Abu Kasem. TB), MAN Lhok Seumawe Tamat Tahun 1994. S1 STAI Almuslim Tamat Tahun 1999. S2 di Unsyiah, Tamat Tahun 2006. S3 di UIN Sumatera Utara, Tamat tahun 2011. Jabatan: Kepala Dinas Syari’at Islam Tahun 2011-2012. Kepala Badan Pembinaan Pendidikan Dayah 2012 s/d sekarang. Ketua STAI Almuslim 2010 s/d sekarang. Ketua Dewan Pengawas Bank Syari’ah, Tahun 2010 s/d sekarang. Wakil Direktur Forum Kajian Pendidikan Islam Se-Sumatra di Medan Tahun 2010 s/d Sekarang, Wakil Ketua Yayasan Almuslim Tahun 2010 s/d sekarang. Ketua Pembina Yayasan Ummul Qura Aceh Tahun 2012 s/d sekarang. Wakil Direktur Forum Kajian Pendidikan Islam Sumatera dari tahun 2008 s/d sekarang.